Monday, March 14, 2005

Mengenal Representasi, Memahami Realitas Media

Oleh Fajar Junaedi S.Sos, M.Si

Representasi (representation) sebagaimana dikemukakan oleh Tim O’Sullivan dkk dipahami sebagai “the social process of representing; representations are the products of the social process of representing” (O’Sullivan dkk, 1995 : 265). Representasi dalam konteks ini dapat juga dipahami sebagai “produksi makna dari konsep-konsep yang terdapat dalam pikiran manusia melalui bahasa”. Lebih lanjut representasi dapat dijelaskan sebagai “menghubungkan antara konsep-konsep dan bahasa yang membuat manusia mampu untuk merujuk dunia obyek-obyek, orang-orang, dan kejadian-kejadian yang bersifat ‘nyata’ atau bahkan dunia obyek-obyek, orang-orang dan kejadian-kejadian fiksional yang bersifat imajiner”(Hall dalam Hall [ed], 1997 : 17).
Dalam studi yang dilakukan oleh Graeme Burton mengenai representasi sebagaimana termuat dalam bukunya Talking Television : An Introduction to The Study of Television, representasi dapat dipahami tatkala berfungsi secara ideologis dalam memproduksi relasi sosial yang berbentuk dominasi dan eksploitasi (Burton, 2000 : 104). Dalam pandangan Burton ada beberapa hal yang perlu dimengerti berkaitan dengan representasi sehingga relasi sosial yang berwujud dominasi dan eksploitasi ini terbentuk, yaitu stereotype, identity, difference, naturalization dan yang tidak bisa dilupakan pula adalah ideologi.
Dari berbagai uraian di atas dapat ditarik suatu penegasan bahwa dalam representasi itu sendiri, ada beberapa persoalan krusial yang mumcul ke permukaan. Namun, hal paling utama yang layak ditarik sebagai satu persoalan adalah bagaimana representasi yang dilakukan media terhadap dunia sosial dibandingkan dengan dunia “nyata” yang sifatnya eksternal? Pada hakikatnya memang ada problematika antara “realitas sosial” yang kita alami sehari-hari dengan “realitas media” yang membentuk kesadaran dan cara kita berpikir. Sejumlah problem yang harus dipahami dari persoalan representasi ini adalah:
Pertama, representasi adalah hasil dari suatu proses seleksi yang mengakibatkan bahwa ada sejumlah aspek dari realitas yang ditonjolkan serta ada sejumlah aspek lain yang dimarjinalisasi. Hal ini mengandung implikasi bahwa seluruh representasi berarti “penghadiran kembali” dunia sosial yang kemudian membawa implikasi bahwa hasil dari suatu representasi pasti akan bersifat sempit dan tidak lengkap. Kedua, apa yang dinamakan dengan dunia yang ”nyata” itu sendiri layak untuk dipermasalahkan. Dalam hal ini menarik untuk mengemukakan pandangan dari kalangan pemikir konstruksionisme yang memberi satu penegasan bahwa tidak ada satu pun representasi dari realitas yang secara keseluruhan pastilah “benar” dan “nyata”. Misalnya dalam pemberitaan di media dalam kasus kenaikan BBM dan Ambalat, sebagian media memilih lebih mem-blow up kasus kenaikan BBM, sedangkan yang lainnya lebih memilih memberitakan kasus pertikaian Blok Ambalat dalam porsi pemberitaan yang lebih besar. Ini disebabkan wartawan dan redaksi sebelumnya sudah membingkai ( frame) suatu isu dan memilih untuk memasukkan atau menyingkirkan komponen-komponen tertentu dari realitas yang mempunyai banyak sisi-sisinya (multifaceted). Ketiga, dalam benak khalayak sendiri terdapat suatu pemikiran yang menyatakan bahwa media tidaklah harus merefleksikan realitas. Sebab, dalam hal ini, media, terutama televisi dan film yang dipenuhi hiburan, sekadar dianggap sebagai tempat pelarian (escape) dari realitas kehidupan sehari-hari. Yang paling jelas adalah tingginya rating sinetron yang berlatar belakang kehidupan kelas atas daripada sinetron yang mengetengahkan kehidupan kelas bawah (Kompas, 13 Maret 2005). Jadi, apa realitas media itu “nyata” atau tidak, memang menjadi tidak relevan untuk dibicarakan, karena ketika realitas diangkat ke dalam media tidak mungkin keseluruhan realitas digambarkan secara terperinci dari berbagai perspektif. Yang ada kemudian terjadi ketika realitas diangkat dalam satu media hanyalah representasi, yang mengandung implikasi ada hal-hal tertentu dari realitas yang dihilangkan atau ditambah.


Referensi

Burton, Graeme (2000). Talking Television : An Introduction to The Study of Television. London : Arnold

Hall, Stuart (1997). “The Work of Representation” dalam Representation: Cultural Representations and Signifying Practices. New Delhi : Sage Publication

O’Sullivan, Tim; Hartley, John, Saunders, Danny; Montgomery, Martin; Fiske, John. (1995). Key Concepts in Communication and Cultural Studies, 2nd Edition. London : Routledge

1 Comments:

Blogger onyenk said...

memang bener pak, tapi dalam mengartikulasikan realitas media tidak sesimpel seperti yang ada dalam tulisan bapak. banyak faktor yang mengikuti prergerakakn media. sedikitnya ada tiga kepentingan bermain diluar media. coba bapak cari jawabannya. Pr buat bapak.

7:34 AM

 

Post a Comment

<< Home